Oleh, Mohamad Wahyudin, SH
Perubahan lingkungan yang begitu cepat menuntut organisasi untuk mengambil langkah strategis agar organisasi dapat terus berkembang dengan baik sesuai dengan perubahan yang terjadi. Perubahan untuk menjadi lebih baik, tidak akan terlepas dari sejumlah tantangan yang akan terus menghadang, apalagi di era yang penuh dengan persaingan dan ketidakpastian. Berdasarkan konsep persaingan berbasis waktu maka siapa yang cepat dia yang menang, baik lebih cepat dalam menawarkan produk baru dari pesaingnya (fast to market) maupun kecepatan merespon permintaan pelanggan terhadap produk yang telah ada (fast to product). Oleh karena itu organisasi yang ingin terus berkembang harus merespon dengan cepat tantangan-tantangan yang ada.
Tingkat persaingan yang tinggi harus dihadapi perusahaan dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang dapat membedakan dengan pesaingnya. Dengan adanya perbedaan tersebut berarti perusahaan telah memiliki keunggulan kompetitif. Namun, tujuan dari organisasi seharusnya tidak hanya sampai pada keunggulan kompetitif saja tetapi keunggulan kompetitif tersebut sifatnya berkelanjutan atau tidak hanya sementara sehingga dikatakan perusahaan memiliki keunggulaan kompetitif yang berkelanjutan.
Untuk membentuk Keunggulan yang kompetitif, maka semua komponen dalam perusahaan harus melakukan kerja keras dan kreativitas ekstra agar mampu menjawab tantangan usaha ini, yaitu dengan salah satu cara membentuk dan melakukan proses internalisasi budaya perusahaan yang kuat dan sehat kepada seluruh insan perusahaan.
Mengapa diperlukan Budaya Perusahaan?. Budaya perusahaan identik dengan jiwa atau Soul dari suatu perusahaan yang dibentuk oleh sekelompok orang didalamnya untuk memacu pertumbuhan perusahaan dan dapat pula diartikan sebagai cermin pertumbuhan jiwa dalam perusahaan.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita dapat memastikan jiwa itu tumbuh dengan baik dan menjadi suatu kekuatan untuk mempersatukan semua unsur dalam perusahaan dan menjadi pembeda dari lingkungan bisnisnya?. Untuk menjawabnya, tentu dibutuhkan suatu budaya yang menjadi jiwa dari perusahaan itu sendiri. Dengan kata lain, budaya perusahaan adalah jiwa perusahaan. Tanpa suatu jiwa, perusahaan tidak akan dapat tumbuh dengan baik, dan apabila perusahaan tidak tumbuh, maka tidak akan ada kehidupan, yang pada akhirnya perusahaan itu akan mati. maka Pengertian budaya perusahaan adalah kepribadian suatu perusahaan yang umumnya dikaitkan dengan sistim nilai, norma, sikap, dan etika kerja yang dipegang bersama oleh setiap personil perusahaan.
Budaya Perusahaan pada umumnya merupakan pernyataan filosofis yang dapat difungsikan sebagai tuntutan yang mengikat para karyawan, karena dapat diformulasikan secara formal dalam berbagai peraturan dan ketentuan perusahaan. Dengan memberikan budaya perusahaan sebagai suatu acuan bagi ketentuan yang berlaku, para pimpinan, staf, dan karyawan secara tidak langsung akan saling terikat dan bersama-sama membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan rencana strategis perusahaan. yang dituangkan dan dikodifikasi oleh pendiri perusahaan (the founding father) menjadi Visi dan Misi Perusahaan.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara internalisasi / penanaman budaya perusahaan kepada seluruh karyawan, ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu :
1. Menggunakan sistim Paksa – Rela, dimana karyawan dalam melaksanakan budaya perusahaan haruslah dipaksa terlebih dahulu, dengan harapan karyawan tersebut akan terbiasa melakukannya dan apabila sudah terbiasa, maka karyawan tersebut akan secara sukarela melaksanakan buadaya perusahaan. Prisnip dasar dalam sistim Paksa – Rela tersebut adalah bagaimana manajemen menerapkan Reward & Punishment, sehingga karyawan akan termotivasi dalam melaksanakan budaya perusahaan.
2. Leadership / kepemimpinan, adalah salah satu cara yang harus dilakukan dalam proses penanaman budaya perusahaan, mengingat masyarakat Indonesia, adalah masyarakat yang membutuhkan contoh atau figure yang dapat ditiru, oleh karena itu, pemimpin di dalam organisasi harus mempunyai komitment dan mampu menjadi contoh bagi anak buahnya dalam melaksanakan budaya perusahaan.
3. Pelatihan yang sistematis dan berkesinambungan, karena di dalam pelatihan tersebut terdapat materi – materi yang mengarah pada peningkatan knowledge, skill dan attitude.
Hasil yang diperoleh dalam proses penanaman budaya perusahaan adalah produktivitas yang tinggi dengan parameternya ketertiban kerja, kecilnya kesalahan dalam bekerja, kualitas produk tinggi dan kecepatan dalam menyelesaikan masalah.
Kamis, 24 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Memberi kebijakan malah menyengsarakan karyawan.
Posting Komentar